Jumat, 17 Januari 2020

Jelajah Chinatown di Pantjoran



Weekend enaknya memang dihabiskan dengan liburan, tapi bukan sekedar liburan.

Kali ini, aku ingin liburan yang berbeda dan lebih menarik tentunya. Pada kesempatan kali ini, aku bergabung kesebuah komunitas travelling yang di khususkan dengan travelling kulinernya. Kebetulan memang rencana travellingnya masih di sekitaran Jakarta. 

Tujuan travelling kali ini yang sudah direncanakan oleh komunitas yaitu dengan menjelajah daerah Chinatown yang ada di sekitaran Glodok Jakarta. Wah pasti sangat menarik dan unik, penasaran dengan sejarahnya dan apa aja kuliner yang ada disana.


Komunitas yang aku ikuti yaitu Food Traveler Comunity, sebelumnya mereka sudah banyak melakukan kegiatan jelajah seperti ini di sekitaran jabodetabek. 
Jelajahnya meliputi berkunjung ke tempat bersejarah, bangunan tua, serta kuliner khas dan legendaris.
Bukan hanya sekedar jelajah saja, sudah ada guide yang mengarahkan dan menjelaskan sejarah ditempat yang dikunjungi.


Jelajah Spesial.


Spesial, jelajah kali ini bekerja sama dengan salah satu program Televisi "Tau Gak Sih" 
Pastinya sudah banyak kenal dong dengan program TV tersebut......
Dan sudah pasti juga akan jelajah  bareng host cute "Genki".

Bersama Genki


Liputan Genki bersama komunitas menjelajah bareng Chinatown.
Serunya lagi Genki yang super gemesin itu, membawa suasana makin ceria. Jadi asik deh jelajah dengan berjalan kaki.


Pantjoran Tea House.


Titik point untuk berkumpul, kita janjian di sebuah rumah teh, yaitu "Pantjoran Tea House"



Disini bukan sekedar rumah untuk hanya minum teh saja, ternyata disini juga punya sejarahnya loh, apalagi tempat ini juga sudah lama berdiri sejak tahun 1900, awalnya merupakan gerbang dari Kota Tua dan pecinan Jakarta.
Dirumah ini menyediakan aneka teh khas Cina, juga menyediakan Soup, Meat, Dimsum, Kue-kue dan lain-lain. 
Didalam Tea House ini, sangat kental dengan budaya Cina. Segala ornamen khas menghiasi setiap sudut ruangan.
Kami memesan teh dan beberapa cemilan kue, memang untuk harganya agak sedikit eksklusif, tapi disuguhkan dengan suasana yang unik dan berbeda.


Pasar Pantjoran Glodok.


Setelah menikmati teh, kami bersama tim Genki bergegas jalan menuju pasar yang ada di daerah Pancoran glodok.

Didalam pasar terdapat berbagai macam kuliner, ada yang halal dan ga halal juga. Ga aneh sih didaerah sana banyak yang ga halal, hanya untuk sekedar tahu saja, tapi masih banyak juga yang halalnya.

Saat menyusuri pasar pancoran ini, banyak hal unik ditemui, selain menu yang ga halal, ada juga menu makanan ekstrim dari penyu laut / soup pioh dan tripang rebus dijual disini, juga ada ular yang sedang dikuliti untuk diambil dagingnya. Untungnya aku ga takut untuk melihat proses itu, jadi bisa ambil foto dan videonya.

Saat berjalan masih menyusuri pasar, Genki menemukan penjual kue Tau Sa Pia (kue kacang). Berbentuk seperti bakpia, tapi ini berukuran besar mirip seperti kue bulan, disajikan hangat-hangat. Bukan hanya isi kacang hijau atau kacang merah saja, juga ada isi coklat, dan juga durian. Genki pun mencoba menggoreng beberapa kue, dan juga mencoba kuenya. Enak rasanya, garing dan manisnya pas.

Gereja Arsitektur Cina.



Berpindah dari sana, kita menuju ke sebuah bangunan Gereja yang khas berbentuk bangunan dan arsotektur khas Cina, yaitu Gereja Santa Maria de Fatima, sebuah rumah ibadah Katolik di Jakarta. Tepatnya berada di Jl. Kemenangan III NO.47 yang dibangun sejak tahun 1954.


Nasi Ulam.


Tak jauh dari gereja tersebut, kami menuju ke sebuah tempat makan yang juga sudah lama berjualan dan pemiliknya pun sudah turun temurun. Makanan khas betawi yang memang jarang banyak yang tau yaitu Nasi Ulam, terletak tepat didepan Vihara Dharma Jaya TOASEBIO. 
Nasi Ulam berisi Nasi putih, bihun, kacang tumbuk, dendeng daging sapi, telur dadar, perkedel, kerupuk emping, kerupuk bawang, kemangi, siram dengan kuah kecap atau semur, ditaburi dengan bawang goreng. Rasanya selalu sama dan selalu enak dan mengenyangkan banget, seporsi 25ribu.


Vihara Tertua di Jakarta.


Lalu kami juga berkunjung ke sebuah Vihara tertua di Jakarta yaitu Vihara Kim Tek Ie, masih digunakan sebagai tempat beribadat hingga sekarang.

Rujak Shanghai.


Selepas berkunjung ke vihara, lapar kembali menyerang, akhirnya kembali jelajah kuliner. Menuju kesebuah makanan unik, yaitu Rujak Shanghai, berisi sayuran kangkung yang sudah direbus, juga ditambahkan cumi dan ubur-ubur yang sudah direbus matang, dipotong-potong dan disiram kuah bumbu khas. Dan ini hanya ada di glodok lho, rasanya.......cobain aja sendiri.


Dan hari pun sudah berubah gelap, saatnya mengakhiri jelajah kali ini.
Review hari ini banyak hal baru, mulai dari menu makanan, sejarah dan budayanya. Dengan begini aku jadi tambah bangga deh, Indonesia terdapat banyak ragam budaya. Tetap terus dilestarikan.