Keseruan mengikuti workshop "The Power Of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication".
Hadir bareng teman-teman dari Komunitas ISB, kita semua belajar bareng, apalagi tema seperti ini sangat penting bagi kita yang aktif membuat konten atau pun membuat artikel melalui blog, dapat membangun kepercayaan diri kita serta membangun personal branding.
Hadir sebagai Narasumber yaitu:
- Latifa Ramonita, M.I.Kom
Pakar komunikasi fokus pada digital branding dan public speaking, Serta memiliki pengalaman copywriting untuk salah satu majalah wanita terkemuka di Indonesia.
- Dr. Elke Alexandrina, M.Sc.
Pakar komunikasi fokus pada Personal Branding serta Digital Marketing dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia akademik dan industri.
**personal branding, kepercayaan diri, dan kemampuan berkomunikasi merupakan tiga hal yang saling berkaitan dalam membangun citra diri yang kuat dan autentik**.
Personal branding bukan sekadar usaha untuk mempromosikan diri atau menunjukkan pencapaian secara terus-menerus, melainkan proses membangun persepsi yang konsisten mengenai siapa diri kita, apa yang kita kuasai, apa yang kita pedulikan, serta bagaimana kita menyampaikan hal tersebut kepada orang lain.
Personal branding dapat dirumuskan melalui kombinasi antara lain:
- what you stand for
- what you know
- what you care about
- how you communicate it
Dengan demikian, seseorang tidak perlu menciptakan persona yang sebenarnya bukan dirinya, tetapi perlu mengenali keunikan, nilai, keahlian, dan pengalaman yang dimiliki untuk kemudian dikomunikasikan secara konsisten.
Kehadiran digital juga menjadi bagian penting karena sebelum seseorang bertemu secara langsung, orang lain mungkin sudah terlebih dahulu mengenal dirinya melalui media sosial. Apa yang kita katakan, tampilkan, bagikan, cara kita berinteraksi, hingga hal-hal yang akhirnya diingat oleh orang lain akan membentuk reputasi dan menjadi bagian dari *digital footprint* serta personal brand kita.
Selain personal branding, materi yang disampaikan juga menekankan bahwa **kepercayaan diri bukan berarti harus menjadi orang yang paling banyak berbicara, selalu mengetahui semua jawaban, tidak pernah merasa gugup, atau harus terlihat sempurna**.
Kepercayaan diri justru dapat dibangun melalui tiga unsur utama, yaitu:
- Clarity, berarti mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan.
- preparation, berarti memahami kepada siapa kita berbicara dan mempersiapkan materi dengan baik.
- presence, berarti mampu hadir sepenuhnya ketika berkomunikasi, baik dalam situasi tatap muka maupun digital.
Oleh karena itu, seseorang dapat tetap merasa gugup tetapi tetap terlihat percaya diri apabila memiliki persiapan dan pemahaman yang jelas mengenai tujuan komunikasinya.
Prinsip ini juga berkaitan dengan konsep **3C of confident communication**, yaitu:
- content
- context
- connection
Sebelum berbicara, seseorang perlu mengetahui apa pesan utamanya, siapa audiensnya, dan mengapa audiens tersebut perlu peduli terhadap pesan yang disampaikan.
Kemampuan berbicara di depan umum juga tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi merupakan bentuk **storytelling** yang bertujuan membangun hubungan dengan audiens.
Presentasi yang efektif dapat menggunakan struktur sederhana berupa
**hook → story → message → action**
Pembicara perlu menarik perhatian terlebih dahulu, kemudian memberikan pengalaman atau contoh yang relevan, menyampaikan pesan utama, dan mengarahkan audiens pada tindakan yang diharapkan.
Storytelling yang autentik dapat dibangun melalui empat unsur, yaitu
*experience* atau pengalaman yang dialami,
*emotion* atau perasaan yang muncul,
*insight* atau pelajaran yang diperoleh,
*value* atau manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dengan demikian, komunikasi yang baik bukan hanya membuat orang mendengar, tetapi membuat mereka merasa terhubung, memahami pesan, dan memperoleh sesuatu yang bermakna.
Materi kedua dengan tema:
The power of presence: membangun kepercayaan diri melalui personal grooming dan komunikasi efektif
Yang disampaikan oleh Dr. Elke Alexandrina M.Sc.
Selain personal branding, ternyata penampilan dan cara seseorang berkomunikasi merupakan bagian penting dalam membangun kesan pertama.
Presence atau kehadiran seseorang tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik tetapi juga oleh sikap, cara berbicara, perilaku, serta tingkat kepercayaan diri yang ditunjukkan ketika berinteraksi dengan orang lain.
Sebelum materi dimulai peserta diajak merefleksikan hal-hal sederhana seperti kondisi rambut, senyum, postur tubuh, pakaian hingga penggunaan aksesoris.
Penampilan yang terawat bukan semata-mata bertujuan untuk memenuhi standar, tetapi menunjukkan penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus memberikan kesan positif kepada orang lain.
Presence terbentuk dari beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu:
- Appearance
- Attitude
- Communication
- Confidence
Penampilan menjadi aspek yang pertama kali terlihat, sedangkan sikap dan perilaku menunjukkan bagaimana seseorang membawa dirinya dalam suatu lingkungan.
Lalu ada Personal Grooming merupakan bentuk kepedulian terhadap diri yang tercermin melalui kebersihan dan kerapihan.
Tidak harus selalu berarti menggunakan barang mahal atau mengikuti tren terbaru, tetapi lebih menekankan pada kebersihan, kerapian, kesesuaian, dan kemampuan menyesuaikan penampilan dengan situasi.
Dalam penggunaan aksesoris secara berlebihan atau penggunaan make up dan parfum yang terlalu banyak, serta mengenakan pakaian terlalu santai dalam situasi formal, juga mengabaikan kebersihan dan kerapian dapat mengurangi kesan profesional seseorang.
Selain penampilan, komunikasi menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam membangun presence. Cara seseorang berbicara seringkali memberikan gambaran mengenai sikap dan tingkat kepercayaan diri.
Jadi untuk membangun kepercayaan diri dapat melalui proses persiapan, praktik, dan semakin banyak kesempatan untuk berkembang, juga salah satunya dengan mengikuti workshop kali ini.
Personal branding dan The power of presence, memiliki kaitan yang erat. Personal Branding membentuk bagaimana seseorang ingin dikenal, sedangkan Presence memperkuat kesan tersebut melalui sikap komunikasi dan cara membawa diri.
Dengan membangun kehadiran yang positif dan autentik, personal branding akan menjadi lebih kuat, meyakinkan, dan mudah diingat oleh orang lain.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar